Pariwisata Indonesia tengah memasuki era baru yang tidak lagi hanya bertumpu pada Bali. Strategi pengembangan lima Destinasi Super Prioritas (DSP) yang diinisiasi oleh Pemerintah telah membuka jalan bagi pesona lain nusantara, terutama Destinasi Tersembunyi yang kaya akan budaya, alam, dan keindahan otentik. Pergeseran fokus ini bertujuan untuk mendistribusikan manfaat ekonomi pariwisata secara lebih merata sekaligus mengurangi beban lingkungan di destinasi yang sudah jenuh. Potensi alam Indonesia yang luar biasa luas dan beragam menjamin bahwa selalu ada Destinasi Tersembunyi baru yang siap diangkat ke panggung global.
Inisiatif pengembangan pariwisata ini berjalan seiring dengan upaya peningkatan konektivitas dan infrastruktur. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara hingga 15 Juta pada tahun 2027, didukung oleh pembukaan rute penerbangan baru dan peningkatan kualitas amenity di daerah terpencil. Salah satu fokus utama adalah pembangunan Bandara Internasional baru di dekat Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, yang diharapkan dapat meningkatkan akses ke Destinasi Tersembunyi di gugusan pulau sekitarnya. Pembangunan ini ditargetkan selesai pada Desember 2026 oleh Kementerian Perhubungan.
Strategi Peningkatan Kualitas dan Keterjangkauan
Untuk menjadikan Destinasi Tersembunyi sebagai magnet dunia, strategi yang ditempuh tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan komunitas lokal dan pelestarian lingkungan. Konsep pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism ditekankan sebagai fondasi utama.
Salah satu contoh suksesnya adalah pengembangan desa-desa wisata di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara. Komunitas lokal di sana dilatih oleh Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) untuk mengelola homestay, memandu wisata, dan memproduksi kerajinan tangan khas Batak. Program pelatihan ini, yang dimulai sejak Senin, 5 Mei 2025, bertujuan memastikan bahwa 70% dari pendapatan pariwisata dapat dinikmati langsung oleh masyarakat setempat.
Di sisi lain, tantangan logistik menuju beberapa Destinasi Tersembunyi masih menjadi pekerjaan rumah. Misalnya, akses menuju Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang meski terkenal dengan keindahan bawah lautnya yang tak tertandingi, masih membutuhkan penerbangan lanjutan dan perjalanan laut yang cukup lama. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah telah menugaskan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) untuk menyediakan kapal feri cepat dengan jadwal reguler setiap hari Kamis dan Minggu dari Pelabuhan Kendari menuju Wakatobi, yang telah diresmikan operasionalnya pada Maret 2025.
Peran Digital dan Keamanan
Promosi digital melalui platform internasional juga memegang peran krusial. Kemenparekraf meluncurkan kampanye “Wonderful Indonesia 2.0” di media sosial global pada awal tahun 2025, menampilkan visual-visual menawan dari situs-situs yang belum terjamah.
Selain promosi, aspek keamanan wisatawan juga menjadi prioritas. Kepolisian Daerah (Polda) di setiap provinsi DSP telah membentuk unit khusus Polisi Pariwisata (Pospamwis) yang bertugas memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan. Pospamwis di Mandalika, Nusa Tenggara Barat, misalnya, telah diaktifkan 24 jam sehari sejak Januari 2025 di Sirkuit Mandalika dan sekitarnya, menunjukkan komitmen serius negara dalam mendukung pertumbuhan pariwisata di kawasan Destinasi Tersembunyi ini. Dengan kombinasi infrastruktur yang lebih baik, pengelolaan berbasis komunitas, dan jaminan keamanan, wajah baru pariwisata Indonesia siap memposisikan diri sebagai salah satu tujuan wisata terbaik di dunia.