Pengaruh alkohol dan narkoba oleh orang tua atau pengasuh dapat menurunkan kontrol diri dan meningkatkan potensi terjadinya kekerasan terhadap anak. Ini adalah salah satu faktor risiko paling berbahaya yang mengancam keselamatan dan kesejahteraan anak-anak di dalam rumah. Ketika seseorang berada di bawah pengaruh alkohol atau narkoba, pengambilan keputusan yang rasional seringkali terganggu, membuka celah bagi tindakan impulsif dan agresif yang merugikan.
Banyak korban kekerasan anak yang mengalami trauma mendalam disebabkan oleh perilaku orang tua atau pengasuh yang tidak terkontrol akibat zat adiktif. Lingkungan rumah yang seharusnya aman dan penuh kasih sayang, berubah menjadi tempat yang menakutkan dan tidak terduga. Pengaruh alkohol dan narkoba menciptakan suasana yang tidak stabil, membuat anak-anak hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian setiap hari.
Faktor ekonomi yang sulit seringkali berinteraksi dengan pengaruh alkohol dan narkoba. Stres finansial dapat mendorong seseorang untuk mencari pelarian pada zat adiktif, yang pada gilirannya memperburuk situasi. Beban ganda ini menciptakan lingkaran setan: kemiskinan memicu penyalahgunaan zat, dan penyalahgunaan zat meningkatkan risiko kekerasan anak, yang akan merugikan semua pihak.
Minimnya pemahaman tentang metode pengasuhan positif juga memperparah masalah ini. Orang tua atau pengasuh di bawah pengaruh alkohol atau narkoba cenderung kehilangan kesabaran dan menggunakan kekerasan sebagai bentuk disiplin, tanpa menyadari dampak jangka panjang pada psikologis anak. Mereka tidak lagi dapat berpikir jernih dan memahami apa yang mereka lakukan.
Dampak pandemi COVID-19 secara tidak langsung juga dapat memperburuk pengaruh alkohol dan narkoba. Isolasi sosial dan peningkatan stres akibat pandemi bisa memicu atau memperparah kebiasaan menyalahgunakan zat. Ini kemudian meningkatkan risiko kekerasan anak karena orang dewasa berada di rumah lebih lama dengan kontrol diri yang menurun.
Kurangnya efektivitas penegakan hukum juga menjadi hambatan dalam penanganan masalah ini. Meskipun ada undang-undang perlindungan anak, proses hukum yang lambat atau kurangnya bukti karena pengaruh alkohol atau narkoba dapat mempersulit penuntutan pelaku. Hal ini membuat pelaku merasa aman, dan korban kekerasan tidak mendapatkan keadilan yang layak mereka terima.
Masyarakat atau individu di sekitar korban kekerasan harus lebih peka dan berani melapor jika mencurigai adanya penyalahgunaan zat yang berujung pada kekerasan anak. Pemerintah perlu dorong regenerasi program rehabilitasi bagi pecandu dan edukasi bagi keluarga tentang bahaya ini. Ini akan meningkatkan kualitas perlindungan dan memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan.